Tampilkan postingan dengan label Give Away. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Give Away. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Februari 2016

Menikmati Kesulitan Hidup

"Hush! Hush! Horokotoyok!"

Teriakan khas Mbah Sabiun kala menggembalakan kambing-kambingnya. Tiap pagi dan sore hari teriakannya lantang terdengar. Tak ayal,kala itu, anak-anak seusia saya mentertawakannya. Tapi Mbah Sabiun tak menanggapi kami. Tak pernah marah. Malah beliau selalu tersenyum, memperlihatkan  giginya yang hitam karena suka mengunyah tembakau dan kapur sirih. Saya tak pernah melihat Mbah Sabiun merokok. Mbah Sabiun yang sudah berusia senja itu mengidap asma. Bunyi nafasnya pun terdengar nyaring. 

Hosh! Hosh!Ngik!

Mbah Sabiun sengaja menyuarakan kata “Hosh” dengan lantang. Kami semakin terpingkal dibuatnya. Mbah Sabiun malah terkekeh senang.

Ada sekitar 20 kambing miliknya. Pernah suatu sore dan hujan turun rintik-rintik, kambing-kambing yang berbulu coklat licin dan pantang air itu berlarian tak tentu arah. Mbah Sabiun pontang-panting dibuatnya.

Ctarr! Ctarr!

Dengan tali pecutnya yang membahana di udara, Mbah Sabiun bekerja ekstra keras mengendalikan lari kambing-kambingnya untuk pulang. Mbah Sabiun tidak memecut kambing-kambing itu. Beliau hanya butuh efek suara pecut saja dalam mengendalikan ternak kesayangannya itu. Tubuh kecilnya pun terpeleset di tanah yang becek dan licin.

Mbah Sabiun hidup bersama istri dan seorang anak perempuannya. Rumahnya dari bilik bambu semua. Kandang kambingnya bersebelahan dengan dapur. 

Istrinya dikenal galak dan suka melempari anak yang nakal dengan kerikil. Kami memanggilnya Mbah Sabiun Perempuan karena tak tahu nama aslinya. Orang segan menanyakan masalah nama aslinya begitu melihat sorot matanya yang hampir melotot.  Ibu saya malah memarahi adik lelaki saya yang dilempari Mbah Sabiun Perempuan karena berlarian di depan rumahnya sehingga mengganggu istirahat siang beliau. 

Mbah Sabiun Perempuan lebih suka makan dengan baskom daripada piring. Sementara anak perempuannya bekerja serabutan dimanapun yang membutuhkan tenaganya. Kadang ia bekerja mencuci piring di warung makan,jualan nasi pecel atau jagung rebus keliling kampung kami.

Mbah Sabiun Perempuan hanya di rumah, tak henti mengomel tiap waktu. Ada tokek di bilik bambu rumahnya dia teriak. Ada anak tetangga lewat teriak. Anak perempuannya pulang teriak. Kasihan sekali, mbak Genduklah yang paling sering diomeli emaknya itu. Sudah lelah bekerja seharian diteriakin pula. 

Orang-orang menganggap mereka gila. Yang kami ingat mereka punya mbelik, sebuah lubang di tanah untuk menampung air rembesan tebing di belakang gubuk mereka.  Warna airnya kekuningan. Mereka tak punya sumur. Mbah Sabiun Perempuan yang bertubuh kerempeng hanya sesekali mengambil air di sumur tetangga untuk keperluan memasak. Sedangkan untuk mandi mereka memakai air mbelik. Yang memilukan tentang air di mbelik itu sebenarnya rembesan saluran pembuangan dari rumah yang letaknya jauh di atasnya. 

Tetangga tahu mereka terhimpit masalah ekonomi. Orang sekampung hanya bisa membantu sebisanya. Kambing-kambing itu satu persatu menghilang dari kandang untuk dijual. Mbah Sabiun membutuhkan uang untu berobat. Beliau tak mau meminta uang anak perempuannya.

Ketika saya masuk SMP, Mbah Sabiun meninggal dunia. Tak ada tradisi 40 hari kematian, 100 hari dan nyewu (1000 hari). Tak ada biaya untuk menyelenggarakannya. Ada seorang tetangga yang bilang kematiannya seperti kematian seekor kucing, sunyi dan terlupakan. Mbah Sabiun Perempuan, istrinya tercintanya yang sakit-sakitan menyusulnya beberapa tahun kemudian. Akhirnya rumah itu dijual, buat modal mbak Genduk menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Hongkong.

Keluarga Mbah Sabiun hidup dalam kesulitan bertahun-tahun. Mbah Sabiun mendapatkan kesenangan sederhananya ketika melihat tawa anak-anak yang mengoloknya. Mbah Sabiun Perempuan melegakan kegundahannya dengan mengomel. Mbak Genduk bekerja keras hingga pulang malam untuk menghindari omelan emaknya.

Saya bisa memahami mereka kini, saat saya sudah berumah tangga dan menemukan bermacam masalah dalam kehidupan ini. Kesulitan menjadi indah ketika menemukan cara menyikapinya. 


Ya Allah lapangkanlah kubur kedua orang tetangga saya ini. Maafkan kami yang tak bisa membantunya semasa hidup. 



“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Aku dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang diselenggarakan oleh Liza Fathia dan Si Tunis



Selasa, 09 Februari 2016

Masa SMA,Tiada Sesal Pernah Melewatinya


“Sit, jadi nggak ke sana?” tanya seorang teman yang berjilbab putih pada pergantian jam pelajaran.

Saya mengangguk. Kami kabur ke sebuah perumahan baru di Meteseh,Semarang. Cara menghindari pelajaran Geografi yang tak kami sukai. Bukan pelajarannya yang bikin gerah. Toh waktu SMP pelajaran Geografi adalah pelajaran favorit saya. Guru pengampunya itu loh, bikin risih kalau bicara. Apakah menerangkan perbukitan dan ketinggian daerah, berasosiasi pada tubuh perempuan. Astaghfirullah.

Awalnya kami berdua saja yang kabur dan balik lagi ke kelas setelah pelajaran Geografi selesai. Satu per satu kawan perempuan mengikuti kami. Perasaan kita sama-sama risih. Kelak, bagian kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi saya yang ternyata akan berprofesi sebagai guru yaitu untuk berhati-hati dalam bicara kepada murid.

Selain pelajaran Geografi ,ada satu lagi neh… pelajaran Bahasa Arab. Pangampunya seorang bujangan yang menurut kami sering memberi pertanyaan-pertanyaan kepada murid perempuan sambil berjalan mendekati meja-meja siswi yang mendapat pertanyaannya. Matanya itu terkesan genit. Mungkin Pak Guru lagi sudah mentok memberi pertanyaan pada teman-teman cowok. Maklum anak cowok, diberi pertanyaan apa malah dijawab dengan diam sambil nyengir. 


Saya dipanggil kepala sekolah. Dengan sikapnya yang kebapakan, beliau bisa mengerti alasan kami.

Tak banyak cerita asik saat SMA. Awalnya saya niatkan selama SMA akan fokus hanya belajar, benar-benar belajar semirip kutu buku berkacamata itu. Namun dalam keseharian, saya pasti bersosialisasi dengan teman dan guru di sekolah. Saya memiliki teman-teman yang terbatas. Bukan karena saya pilih-pilih teman,tapi ada perasaan minder dan kehati-hatian yang menguras stok kekuatan saya. Yup… saya dicap seorang pendiam. Masa itu, 20 tahunan yang lalu (cieee… ketahuan produk jadoelnya) di SMA, mengenakan jilbab seperti menjadi bagian dari segelintir kecil makhluk asing di sekolah, meski bersekolah di sekolah berlabel Islam.

Duapuluh tahun berlalu, masya Allah, tuir bingit yak! Sampai-sampai foto-foto dengan teman SMA pun sudah blur karena dipotret dengan kamera manual biasa. Maluk di upload, ntar ada teman SMA yang melihatnya bagaimana, lalu melayangkan somasi penghapusan blog sederhana saya ini,bagaimana? hahaha... 

Minder,karena saya berpenampilan biasa, tak ada yang saya banggakan dengan penampilan jilbab saya. Entah mengapa saya harus minder saat itu. Jika mengingatnya, saya berkata betapa saya tak bersyukur dengan kesederhanaan. Kesederhanaan itu justru menempa saya untuk meraihnya di masa depan. Contoh kecil, orangtua saya membelikan peralatan sekolah yang biasa saja sesuai kemampuan mereka. Saya sering berharap bisa ikut bimbingan belajar seperti teman lain. Namun sadar dengan kemapuan finansial ibu, satu-satunya orangtua yang ada. Saya sering melamunkan andai mmengenakan jilbab putih yang tepiannya dihiasi border bunga seperti yang dikenakan beberapa teman cewek pada hari Jumat. Di sekolah saya dulu, memakai seragam sekolah putih-abu dan olah raga berlengan pendek. Hanya di hari Jumat diwajibkan mengenakan berbusana panjang dan jilbab. 

Apalagi sejak ikut kajian Islam di masjid kampung, saya mengenal arti pacaran dalam agama saya. Meski pernah naksir pada kakak kelas,cukup disimpan rapi dalam hati. Kalaupun ada teman cowok yang menyatakan suka, saya ucapkan terima kasih telah memperhatikan saya.

Pernah saya berjalan dengan satu teman cewek yang berjilbab rapi, dibelakangnya ia diikuti pacarnya. Akhirnya saya berpamitan untuk mendahuluinya pulang.
Saya cukup berhati-hati dalam berkawan. Bukan tanpa alasan, beberapa teman yang berjilbab pun ketahuan mengikuti aliran sesat , sebut saja Ahmadiyah dan LDII (silakan googling kesesatan kelompok-kelompok ini).

Terhadap teman yang tak berjilbab, sebenarnya saya tak banyak mempermasalahkan ketidaksiapan mereka berjilbab. Saya sangat menghargai pendapat mereka yang masih berproses untuk berjilbab, atau alasan teman cewek yang tak akan berjilbab. Sungguh saya tak mempermasalahkan.

Kehati-hatian saya memilih teman kadang dipersepsikan sebagai angkuh. Saya sadari itu, saya tak tahu harus bagaimana menjelaskan. 

Saya menyukai pelajaran matematika. Walikelas saya saat kelas 1 SMA bernama Pak Soekengrat yang terkenal angker seantero sekolah. Karena sering mendapat nilai bagus (ehmm…) jadilah saya dipanggil anaknya Pak Soekengrat. Saya tahu itu ledekan teman-teman. Mereka juga mengakui dibalik keangkeran Bapak walikelas satu ini, ada kebaikan dan keteguhan dalam memegang prinsip Islam.


Saya tidak pernah menyesali apa yang pernah saya lewati sepanjang SMA. Tak ada hutang dalam bentuk apapun pada teman dan guru saya. Tak ada kisah cinta sepanjang sekolah sehingga tak ada teman cowok yang patut mengenang saya sebagai mantan,hahaha…. 

Yang ada hanya kenangan bahwa saya pernah masuk SMA Muhammadiyah 1 Semarang.

Allhamdulilah masih berkesempatan bersua mereka kembali lewat Facebook.  Dan di Facebook inilah saya selalu ingin mengoreksi pendiamnya saya dulu bukanlah kejahatan dan berusaha menjalin silaturahim dengan cara berkometar dengan sopan di status mereka. Tak lupa saya memohon maaf jika ternyata saya dulu pernah berbuat salah menurut mereka. Life is must go on.

Inilah kisah saya di masa SMA. Bagaimana dengan Anda? Ceritalah dan ikutkan ke GA Nostalgia Putih-Abu